Berbicara di Cannes Lions Festival of Creativity (konferensi industri periklanan tahunan) di kota Cannes, Perancis, kepala pemasaran Coca-Cola Joseph Tripodi memuji iklan yang dipasang di Facebook. Tripodi membela jaringan sosial terhadap kecaman media massa dan sebagian pemasang iklan yang tidak puas karena Facebook tidak menawarkan data untuk membuktikan keefektivitasan iklan yang dipasang di situs ini. Walaupun memiliki lebih dari 900 juta pengguna di seluruh dunia, tetapi sampai hari ini, para pemasar masih mencari bukti laba atas investasi dari semua kampanye di jaringan sosial. Karena keterbatasan metode untuk mengukur keefektivitasan iklan yang dipasang di Facebook, pemasar seringkali berspekulasi atas untung-rugi iklan yang di pasang di jaringan sosial. Diskusi semacam ini memukul nilai saham Facebook yang sempat jatuh di bawah $26 per keping dalam waktu satu bulan ini, untunglah sejak comScore mengedarkan laporan tentang keberhasilan iklan Facebook minggu lalu, nilai saham perusahaan milik Mark Zuckerberg ini kembali naik di atas $30 per keping.
Dengan mengutip kepala pemasar Coca-Cola Tripodi, Wall Street Journal melaporkan bahwa Coca-Cola telah mendapatkan 42-juta penggemar di Facebook yang mengacungkan jempol. Tanda “Like” (“Suka”) ini membawa dampak positif terhadap hal-hal yang sudah dilakukan perusahaan minuman ringan ini. Sambil mengutip Tripodi, Wall Street Journal melaporkan bahwa tanda “Suka” bisa dipakai sebagai indikator yang berperan untuk mempengaruhi penjualan. Seterusnya senior eksekutif Coca-Cola ini juga mengingatkan kepada pemasar supaya tidak meremehkan peran jangka panjang dari jaringan sosial semacam Facebook untuk menjalin kekuatan merek.
Wall Street Journal juga melaporkan bahwa Coca-Cola akan terus membaur anggaran iklan yang disediakan untuk pemasangan iklan secara tradisional lewat TV dan lewat digital dan seluler. Coca-Cola memperkirakan akan menghabiskan 20% sampai 25% dari anggaran iklan yang disebarkan lewat platform digital dan mobile di beberapa pasar seperti di Jepang, Korea Selatan dan Skandinavia. Wall Street Journal juga mencatat bahwa Coca-Cola melihat bahwa iklan mobile bukan hanya untuk menjalin kekuatan merek, akan tetapi juga sebagai cara untuk meningkatkan penjualan lewat toko-toko, kedai, restoran, dan mesin penjual (vending).
(Image: facebook.com/cocacola)

































Leave a comment