Sejak pertengahan tahun 2000-an beberapa pakar teknologi dinegara maju seperti Amerika mulai memikirkan bagaimana caranya untuk memperluas penyebaran perangkat komputer murah dan tahan banting ke negara berkembang di seluruh dunia. Atas prakarsa Nicholas Negroponte maka berdirilah satu yayasan sosial yang dinamakan “One Laptop per Child” (Satu Laptop per Anak). Negroponte adalah profesor MIT, salah satu universitas top-5 terbaik di Amerika. Beliau juga seorang penulis buku terlaris berjudul “Being Digital” (1995) yang sudah diterjemahkan kedalam 40 macam bahasa dunia. Peluncuran One Laptop per Child (OLPC) dimulai tahun 2007, sejak itu lebih dari satu juta laptop sudah dikirimkan ke sekolah dasar yang tersebar di seluruh dunia termasuk negara seperti Uruguai, Peru, Argentina, Mexico, Rwanda, Gaza, Afghanistan, Haiti, Ethiopia, and Mongolia. Yang paling banyak menerima sumbangan OLPC adalah negara Peru yang mana yayasan sosial ini sudah menjangkau lebih dari 8.300 sekolah dasar.
Supaya bisa mengumpulkan data lebih lengkap sebagai bahan penelitian, maka satu tim peneliti yang dipimpin oleh Julián Cristia dari Inter-American Development Bank (IDB) memilih negara Peru sebagai negara topik penelitian. Data untuk analisa dikumpulkan setelah 15 bulan penerimaan perangkat komputer di 319 sekolah dasar di pedesaan Peru. Dengan menggunakan contoh dari Peru, laporan yang dipublikasikan oleh Cristia dkk cukup mengecewakan para sponsor dan pemberi amal dari Amerika. Alkisah laporan tsb menemukan sumbangan OLPC tampaknya tidak berbuat banyak untuk meningkatkan nilai tes matematika maupun tes bahasa untuk anak-anak SD. Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa anak-anak yang sudah menerima OLPC, keterampilan mereka untuk membaca maupun menghitung matematika masih tetap seperti tahun-tahun sebelumnya. Para peneliti juga belum bisa menemukan tanda-tanda bahwa anak-anak Peru yang menerima laptop termotivasi untuk lebih giat mengerjakan pekerjaan rumah mereka maupun menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca buku.
Untuk tidak menambah kekecewaan terhadap para pemberi amal, Cristia dkk. memuji pemerintah Peru yang sudah memberikan akses laptop bagi pelajar-pelajar miskin, karena tidak sampai 25 persen penduduk Peru yang memiliki perangkat komputer pada tahun 2010. Dengan menyadur laporan dari Cristia dkk., economist.com menyebutkan bahwa salah satu kelemahan sumbangan OLPC adalah kemahiran bermain komputer untuk kalangan guru-guru sekolah dasar yang masih kalah dengan murid-murid nya. Untuk itu laporan tersebut menyarankan pemerintah merumuskan solusi yang inovatif meningkatkan kurikulum mencerdaskan guru-guru dibidang penggunaan komputer dalam pengajaran. Salah satunya adalah pelatihan lebih baik dalam menggunakan komputer supaya bisa memperluas kemampuan siswa dan menetaskan bibit-bibit baru didunia teknologi yang mampu menjadi penganti Mark Zuckerberg kelak.
(Image: “One Laptop per Child”)
































Leave a comment