Tradesy: perdagangan busana desainer dan barang-barang (aksesoris) bekas/ekstra yang bermerek, startup yang ingin merubah setiap lemari pakaian menjadi tambang emas

Pendiri dan direktur utama (CEO) perusahaan startup Tradesy, Tracy DiNunzio, berpikir bahwa lemari pakaian bisa menghasilkan uang ekstra ibarat seperti tambang emas bagi kaum wanita. Ide untuk menjual busana dan barang-barang (aksesoris) bekas/ekstra ini bukanlah sesuatu yang baru, sudah banyak penjual memanfaatkan layanan eBay lelang, Threadflip, Poshmark, dan ThredUp, untuk menjajakan barang-barang dagangan mereka. Walaupun banyak pesaing namun belum ditemukan pemenang di pasar penjualan pakaian daur ulang. Dengan pengalaman pertama mendirikan perusahaan yang menjual pakaian bekas pengantin RecycledBride dan kemudian memulai usaha kedua Tradesy sambil mencari peluang pasar, akhirnya membuat Tracy DiNunzio berpartisipasi mengikuti masa inkubasi perusahaan startup di bawah naungan Launchpad di kota Los Angeles pada musim semi 2012.

Banyak pengamat menyatakan bahwa pada umumnya wanita hanya memakai 20% busana dari lemari pakaian mereka, sedangkan sisanya 80% memenuhi lemari dengan pakaian ekstra yang tidak pernah dikenakan. Selanjutnya studi menunjukkan bahwa ada kecenderungan wanita menghabiskan ribuan dollar per tahun untuk membeli pakaian baru dan aksesoris, tetapi meninggalkan banyak busana ekstra yang menghabiskan gantungan baju di lemari pakaian mereka.

Tradesy menyediakan layanan untuk mempermudah pengguna (khususnya wanita) membeli dan menjual pakaian bekas maupun ekstra yang bermerek dengan cepat, mudah, dan aman. Untuk mempermudah penjual, Tradesy mengijinkan penjual memasang dagangan mereka secara gratis melalui situs web atau melalui perangkat mobile seperti tablet atau ponsel pintar. Penjual boleh memasang gambar barang maupun merekam video pendek yang menunjukkan barang yang akan dijual. Tradesy memberikan masukan kepada penjual supaya mereka menetapkan harga yang pantas dengan mendulang data penjualan. Rekomendasi harga berdasarkan perputaran barang, tren, model, merek, gaya, dan kondisi barang.

Apabila ada pembeli yang berminat membeli barang yang dijajakan di situs Tradesy, penjual tidak perlu pusing kepala karena tugas startup ini akan mengatur proses transaksi, pembayaran, dan pengiriman, maupun menerima pengembalian (tapi dengan syarat Tradesy akan mengambil komisi penjualan sebesar 9%). Setelah penjualan sudah dilakukan, secepatnyalah Tradesy mengirimkan semacam alat pembungkus ke rumah/apartemen si penjual. Pembungkus ini sudah dibayar ongkos kirimnya (seperti perangko) bersama alamat tujuan pengiriman barang. Setelah penjual mengirimkan barang ke pembeli yang menggunakan pembungkus yang sudah diberi nomor pelacakan, maka Tradesy akan segera membayar kepada penjual melalui online. Untuk menjamin kepuasan pembeli, Tradesy juga menyediakan sistem yang memungkinkan pembeli mengirimkan umpan balik dan memberikan nilai kepada penjual.

Tradesy berbasis di kota Santa Monica di pantai barat kota Los Angeles, dengan karyawan tidak lebih dari 10 orang. Setelah melakukan uji-coba sejak bulan Juli dengan 5.000 pengguna, situs baru Tradesy sudah resmi diluncurkan untuk publik pada hari Rabu, tanggal 24 Oktober ini. Pada kesempatan ini Tradesy juga mengumumkan bahwa startup ini sudah menerima pendanaan putaran pertama (Seri A) sejumlah $1.5 juta dollar yang dipimpin oleh Rincon Venture Partners, 500 Startups, Launchpad LA, dan beberapa pemodal pribadi.

(Images: top, Tradesy logo; middle, homepage)

Trackbacks

  1. […] yang baru, karena sebelumnya sudah ada beberapa startup yang mencoba bisnis model ini, seperti Tradesy, Poshmark, dan […]

  2. […] yang sudah pernah dipakai oleh orang lain, tapi masih kelihatan baru. Contoh startup seperti Tradesy, Poshmark, Threadflip, dan ThredUp. Perusahaan startup tsb. bertujuan memakai inovasi teknologi […]