Siapa yang butuh mesin percetakan? Setelah 244 tahun membuka usaha percetakan buku referensi ensiklopedia, dengan edisi tahun 2010 sebanyak 32 jilid dan berat total 58.5 kg, akhirnya Encyclopaedia Britannica memutuskan untuk mundur dari usaha penjualan buku dan coba menjangkau pengguna lewat media digital dan website

Setelah kalah bersaing dengan Wikipedia yang baru lahir 11 tahun yang lalu di Internet, pencetak buku referensi ensiklopedia atau lebih keren dengan nama perusahaan Encyclopaedia Britannica memutuskan untuk menutup usaha percetakan mereka.  Mesin percetakan mereka akan segera dilego dan diobral dengan harga murah.

Perusahaan percetakan buku referensi ensiklopedia nomer satu didunia ini didirikan pada tahun 1768 oleh tiga orang Skotlandia.  Ini berarti sudah membuka usaha percetakan selama 244 tahun.  Buku referensi ensiklopedia biasanya diperdagangkan lewat penjual yang berdasi dari rumah-ke-rumah dan kebanyakan hanya perpustakaan besar dan kalangan atas yang kantongnya tebal yang mampu menjangkau harga buku yang cukup mahal ini dan membutuhkan rak buku yang cukup besar. Edisi terakhir diterbitkan tahun 2010 yang jumlahnya 32 jilid dan berat total 58.5 kg.

Hari ini Encyclopaedia Britannica memutuskan media digital adalah jalan keluar yang terbaik untuk kelangsungan perusahaan ini.  Lebih dari 100 juta pelajar diseluruh dunia dan pengguna generasi Internet sudah terbiasa melawat situs www.britannica.com, sehingga kebutuhan untuk membuka buku referensi sudah bukan zamannya lagi.  Dengan memanfaatkan media digital dan website, Encyclopaedia Britannica yakin pemakai akan terus kembali mencari data referensi yang terbaru karena perusahaan ini berjanji akan terus memperbaharui konten mereka sambil menambah aplikasi-aplikasi baru yang bisa dipakai melalui media tablets (misalnya, Apple iPad) dan ponsel smartphone.  Malah Encyclopaedia Britannica percaya data terbaru akan lebih mudah diterbitkan karena pemakai tidak perlu lagi menunggu satu tahun untuk melihat cetakan terbaru lewat buku.

(Image: britannica.com)

Comments

  1. memang ketakutan dunia percetakan khususnya penerbitan adalah maraknya dunia internet. Namun hal ini bisa di jembatani dengan pemanfaatan teknologi.. Semoga percetakan indonesia dapat lebih kreatif.

Trackbacks

  1. […] iPad dan Microsoft Surface), dan lewat situs web. Newsweek mengharapkan pembaca setia akan bersedia merubah kebiasaan memegang majalah dalam bentuk cetak dan berbau tinta ke majalah dalam bentuk […]